Seperti biasanya, setiap pulang sekolah cipi dan teman- temannya selalu nongkrong di sebuah cafe favorit mereka. Selain untuk makan dan menghabiskan waktu bersama dengan melakukan hal-hal konyol, mereka juga saling berbagi cerita satu sama lain. Pada suatu sore, tepatnya pada hari kamis, ketika mereka sedang asik mengobrol, tiba-tiba saja arif mengajak untuk mendaki ke gunung Merapi. Tentu saja itu membuat mereka senang, karena memang sudah lama sekali mereka tidak mendaki bersama.
Tetapi cipi menolak ajakan tersebut dengan alasan karena ia belum pernah mendaki sama sekali, dan juga ia belum memiliki perlengkapan untuk mendaki. Lalu Arif dan teman-teman lainnya berusaha untuk membujuk cipi agar ikut dalam pendakian kali ini. Akhirnya cipi pun mau ikut mendaki bersama teman-temannya.
Lalu kapan kita akan mendaki? Ujar Reihan
Bagaimana kalau jum’at sore saja, mereka serentak menjawab.
Setelah semua sepakat akan melakukan pendakian pada jum’at sore, mereka pun pulang kerumah masing-masing. Lalu setibanya dirumah cipi langsung meminta izin kepada orang tuanya untuk mendaki bersama teman-temannya.
“Pa, tadi temen-temenku ngajak mendaki ke Merapi hari jum’at besok, boleh ga Pa?”
“Iya boleh nak, asal kamu bisa jaga diri dengan baik, dan kamu tidak boleh melanggar aturan yang ada digunung itu.” Jawab papa sambil mengusap rambutku.
“Oke siap pa, insa allah aku bisa jaga diri kok pa, makasih ya pa udah izinin aku buat mendaki bareng temen-temen.” Sahutku sambil memeluk papa.
Keesokan harinya, pada saat istirahat, mereka berkumpul untuk membicarakan keberangkatan mereka. Setelah sepakat akan berangkat dari rumah cipi mereka bergegas untuk pulang dan melakukan persiapan. Setibanya dirumah cipi mempersiapkan semua peralatan, perlengkapan pribadi serta logistik di dalam ransel seberat 60liter. Sepatu bertali serta jaket anti air pun tak lupa ia bawa.
Tepat pukul 4 sore mereka tiba dirumah cipi, setelah memastikan semua perlengkapan agar tidak ada yang tertinggal kami segera bersiap-siap untuk berangkat, tetapi sebelum itu tidak lupa kami berdoa terlebih dahulu agar selamat sampai tujuan dan bisa kembali lagi kerumah dengan selamat. Kami pun berangkat.
Setelah 2 jam perjalanan akhirnya mereka tiba di bascamp awal pendakian dan mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak. Disana mereka banyak sekali berjumpa dengan para pendaki lainnya. Setelah selesai istirahat mereka melakukan registrasi, setelah itu semua barang-barang mereka diperiksa satu persatu dan di data dengan benar. Setelah itu mereka memulai dengan berdoa untuk keselamatan semuanya. Berharap tidak akan ada kejadian buruk yang menimpa.
Pendakian pun dimulai, lama-kelamaan perjalanan makin berat, medan makin menanjak. Perjalanan itu terus menanjak sampai pos BKSDA. Di pos tersebut terdapat mata air yang sangat jernih dan biasanya dijadikan sumber air minum jika minum para pendaki habis. Walaupun banyak rintangan yang harus dihadapi, akhirnya mereka sampai ke pos BKSDA dengan lancar. Di pos ini, mereka istirahat sejenak, mengisi perut dan menyegarkan diri.
Perjalanan dari pos BKSDA ini semakin berat, karena semua tracknya menanjak, tidak ada lagi yang namanya track datar. Bahkan diperlukan langkah ekstra lebar untuk menapak. Tapi mereka tetap semangat dan bergegas melanjutkan perjalanan.
“Aduuhhhh.....!!!!” tiba-tiba cipi terpeleset.
“cipi, apa kamu baik-baik saja?” cemas arif sambil menopang tubuh cipi. “apa kamu terkilir?” lanjutnya.
“hehehe..... tidak kok. Aku nggak papa.” Ujar cipi sambil nyengir.
Akhirnya mereka melanjutkan kembali pendakian dan tiba di pos Lapangan Merpati. Pos ini merupakan pos terakhir sebelum mencapai puncak Karena malam kian larut akhirnya mereka memutuskan untuk kembali beristirahat di pos Lapangan Merpati. Saat mereka sedang istirahat, tiba-tiba ada pendaki lain yang terkena hipotermia. Lalu mereka berusaha untuk menolong pendaki yang terkena hipotermia tersebut.
“Pak, pak, sadar pak” ujar Arif sambil menyelimutinya dengan sleepingbag dan menepuk-nepuk pipinya.
Tetapi pendaki tersebut tidak merespon sama sekali. Mereka terus mencoba membangunkan si pendaki ini, mereka semua memukul tubuhnya, menampar mukanya berkali-kali, tapi pendaki ini tak kunjung bangun. Tubuhnya terlihat tidak merespon sakit dari pukulan mereka. Yang lain terlihat makin pasrah dengan keadaan itu, pikiran mereka kacau, bahkan Reihan sempat berkata bahwa kemungkinan mereka akan membawa mayat ketika turun dari gunung ini.
Tetapi keajaiban terjadi, akhirnya tak lama kemudian pendaki tersebut merespon, walau hanya suara “aaaaa” dengan lirih dia ucapkan. dan kemudian langsung diberi minum hangat agar ia tidak terjadi dehidrasi, sebab kalau ia sampai dehidrasi akibatnya itu akan fatal sekali. Setelah itu Deggi memberikan saran kepada team pendaki tersebut agar beristirahat saja dan mendirikan tenda disebelah mereka.
“Bagaimana kalau bapak dan team beristirahat saja disini dulu, karena tidak baik jika melanjutkan perjalanan jika kondisi teman bapak belum stabil setelah terkena hipotermia.” Ujar Deggi.
“Baiklah pak, kami akan beristirahat dulu disini dan akan melanjutkan perjalanan kembali besok pagi. Terima kasih telah membantu kami pak” Ujar salah satu pendaki sambil mengeluarkan tenda.
Mereka pun beristirahat, dan memutuskan untuk melanjutkan kembali perjalanan besok pagi setelah sholat subuh. Keesokan paginya sebelum melanjutkan perjalanan kembali menuju puncak, mereka memasak air dan memasak nasi terlebih dahulu untuk menambah stamina mereka. Setelah selesai makan mereka langsung segera membereskan barang-barang dan melipat kembali tenda mereka.
Perjalanan menuju puncak dilanjutkan. Tracknya memang sudah tidak banyak pepohonan yang menghalangi, tetapi track ini bebatuan dan begitu menanjak. Pendakian menuju puncak ini membutuhkan waktu sekita 45 menit, dan akhirnya mereka sampai di puncak menjelang matahari terbit.
Semua lelah mereka terbayarkan ketika tiba di puncak, karena di puncak mereka melihat betapa besarnya nikmat tuhan. Cipi merasa senang dan terharu, karena ia tidak menyangka bahwa ia akan sampai di tempat yang seindah itu, merasakan bagaimana sejuknya udara di gunung, melihat kedamaian dari rindangnya pepohonan di gunung, dan melihat indahnya matahari terbit dari puncak yang diselimuti samudra awan.
Usai menikmati keindahan gunung dan mengabadikan momen-momen kebersamaan mereka di puncak. Akhirnya mereka memutuskan untuk turun. Mereka membereskan barang-barang termasuk sampah yang ada di sekitar sana. Setelah tiba di bascamp awal mereka mengucapkan syukur kepada tuhan karena telah memberikan keselamatan kepada mereka dari awal pendakian hingga turun kembali.
Itu merupakan pengalaman pendakian pertama yang dirasakan oleh cipi. Cipi berterima kasih kepada teman-temannya karena sudah mau mengajaknya untuk mendaki dan menjaganya selama pendakian. Akhirnya mereka pulang kerumah masing-masing untuk beristirahat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar